KARYA TULIS ILMIAH REMAJA
KECUBUNG SEBAGAI OBAT TRADISIONAL
KARYA TULIS INI DISUSUN UNTUK MELENGKAPI TUGAS BAHASA INDONESIA
Disusun oleh :
Ashlih Nur Muharom (28) XI IPA 3
Danang Setiadi Eko S. (30) XI IPA3
Banu Desi Antoro (36) XI IPA 3
Zulham Ahmad Fanani (39) XI IPA 3
DINAS PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN KABUPATEN BANTUL
SEKOLAH MENENGAH ATAS NEGERI 2 BANTUL
YOGYAKARTA
2007 - 2008
HALAMAN PENGESAHAN
Karya tulis ini merupakan tugas pelajaran Bahasa Indonesia. Tidak diikutsertakan dalam lomba atau sejenisnya, belum pernah dipublikasikan, merupakan karya asli dari penyusun dan bukan jiplakan. Karya ilmiah remaja yang berjudul “Kecubung Sebagai Obat Tradisonal” ini disusun oleh :
1. Ashlih Nur Muharom
2. Danang Setiadi Eko Saputro
3. Banu Desi Antoro
4. Zulham Ahmad Fanani
Bantul, Maret 2008
Mengetahui,
Kepala SMA 2 Bantul,
Drs. Sartono
NIP 131696478 Mengesahkan,
Pembimbing,
Dra. Siswandarti
NIP 132121247
MOTTO
Hanya mereka yang berani gagal yang dapat meraih keberhasilan
(Robert F. Kennedy)
Jika kita memulai dengan kepastian, maka kita akan mengakhiri dengan keraguan. Jika kita memulai dengan keraguan, dan bersabar menghadapinya, maka kita akan berakhir dengan kepastian
(Francis Bacon)
Janagan lihat masa lampau dengan penyesalan, jangan lihat masa depan dengan ketakutan, tapi lihatlah sekelilingmu dengan penuh kesadaran
(James Thurber)
Orang-orang menjadi begitu luar biasa ketika mereka mulai berpikir mereka bisa melakukan sesuatu. Saat mereka percaya pada diri mereka sendiri, mereka memiliki rahasia kesuksesan yang pertama
(Norman Vincent Peale)
Jangan takut mengambil satu langkah besar jika memang diperlukan. Karena anda tidak akan mampu melewati sebuah jurang hanya dengan dua lompatan kecil
(David Lloyd George)
Pengalaman bukan apa yang terjadi pada anda, melainkan apa yang anda lakukan atas apa yang terjadi pada anda
(Aldous Huxley)
Orang yang luar biasa itu sederhana dalam ucapan tapihebat dalam tindakan
(Confusius)
PERSEMBAHAN
Karya tulis ini kami persembahkan kepada :
o ALLAH SWT, yang selalu memberikan kenikmatan bagi kita semua
o Kepala SMA N 2 Bantul
o Guru Pembimbing yang telah membimbing penyusunan
o Oangtua kami yang selalu mendoakan kami dari rumah
o Oang-orang spesial yang menjadi inspirasi kami
o Teman-teman yang mendukung kami dalam penulisan ini, dan
o Pihak-pihak lain yang tidak dapat kami sebutkan satu persatu
KATA PENGANTAR
P
uji dan syukur kita haturkan kepada Allah SWT, Tuhan Yang Maha Esa. Karena berkat limpahan karunia-Nya, kami berhasil menyelesaikan penulisan karya ilmiah remaja “Kecubung Sebagai Obat Tradisional” ini. Rasa syukur juga kami panjatkan seiring dengan salah satu tujuan pembelajaran karya ilmiah remaja yaitu membentuk sikap positif terhadap suatu hasil karya, baik itu hasil karya pribadi maupun orang lain agar dimanfaatkan sebaik-baiknya.
Dalam penyusunan karya ilmiah ini tidak luput dari dukungan dan partisipasi pihak lain. Ucapan terima kasih kami ucapkan kepada :
1. Drs. Sartono selaku Kepala SMA NEGERI 2 BANTUL
2. Dra. Siswandarti selaku Guru Pembimbing Bahasa Indonesia
3. orangtua kami
4. teman-teman kami tercinta
Di dalam karya ilmiah ini, dipaparkan tetang tumbuhan kecubung yang digunakan sebagai obat tradisional. Laporan ini disusun sedemikian rupa sehingga mudah dipahami dan juga mudah dimanfaatkan.
Terakhir, ucapan terimakasih kami sampaikan kepada semua pihak yag telah membantu dalam penyusunan laporan ini. Kami berharap laporan ini dapat membantu penulis agar menjadi lebih kompeten dalam berkomunikasi dan dapat memberikan kontribusi yang positif terhadap pembelajaran maupun dalam bidang farmatologi.
Bantul, Maret 2008
Penulis
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL…………………………………………………………...
HALAMAN PENGESAHAN………………………………………………….
MOTTO………………………………………………………………………...
PERSEMBAHAN………………………………………………………………
KATA PENGANTAR………………………………………………………….
DAFTAR ISI……………………………………………………………………
BAB I. PENDAHULUAN……………………………………………………...
1.1 Latar Belakang Masalah………………………………………………..
1.2 Rumusan Masalah………………………………………………………
1.3 Tujuan Penelitian……………………………………………………….
BAB II. LANDASAN TEORI………………………………………………….
2.1 Pengertian Obat Tradisional……………………………………………
2.2 Hal-Ihwal Kecubung……………………………………………………
BAB III. METODOLOGI PENULISAN………………………………………
3.1 Proses Penelitian………………………………………………………..
3.2 Cara Pengambilan Data…………………………………………………
3.3 Cara Menganalisis Data………………………………………………...
3.4 Pengambilan Kesimpulan………………………………………………
BAB IV. PEMBAHASAN……………………….…………………………….
4.1 Kandungan Kecubung…………………………………………………..
4.2 Khasiat Kecubung Sebagai Obat……………………………………….
4.3 Cara Memanfaatkan Kecubung…………………………………………
4.4 Efek Samping…………………………………………………………...
BAB V. KESIMPULAN DAN SARAN……………………………………….
5.1 Kesimpulan……………………………………………………………..
5.2 Saran-Saran……………………………………………………………..
DAFTAR PUSTAKA…………………………………………………………..
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Dewasa ini sering terjadi pembakaran hutan secara liar di berbagai belahan dunia. Hal ini menyebabkan proses penyerapan CO2 oleh tumbuhan terganggu. Akibatnya lapisan ozon rusak karena CO2 yang terlepas ke udara langsung diterima oleh ozon. Dengan demikian posisi ozon digantikan oleh CO2. Sehingga cahaya matahari yang masuk ke permukaan bumi tidak dapat dipantulkan kembali. Atau sering juga disebut sebagai pemanasan global atau global warming. Hal inilah yang menyebabkan bumi menjadi semakin panas.
Pemanasan global dapat menimbulkan berbagai penyakit. Mulai dari penyakit yang ringan seperti penyakit kulit hingga yang berat seperti kanker. Banyak jenis obat-obatan yang dapat menyembuhkan penyakit tersebut. Namun, sayangnya obat-obatan yang sudah terjual bebas di pasaran kebanyakan mengandung bahan-bahan kimia yang mempunyai efek samping yang sangat membahayakan tubuh jika mengkonsumsinya.
Selain obat yang terbuat dari bahan kimia juga terdapat pula obat-obatan tradisional yang terbuat dari tumbuh-tumbuhan yang dapat di jumpai di sekitar kita. Ironisnya tumbuhan tersebut hanya dibiarkan saja. Karena dianggap sebagai tumbuhan liar yang tidak mempunyai manfaat sama sekali.
Sebenarnya setiap tumbuhan itu mempunyai khasiat. Hanya saja kita membutuhkan kerja keras dan penelitian agar tumbuhan tersebut dapat kita manfaatkan secara optimal. Salah satu contohnya adalah tanaman kecubung. Banyak orang menganggap bahwa kecubung adalah tanaman beracun yang dapat mengakibatkan mabuk jika dikonsumsi.
Kecubung adalah tumbuhan yang bunganya berbentuk corong atau terompet dan berwarna ungu, bijinya memabukkan (Kamus Besar Bahasa Indonesia, 2005:524). Tumbuh liar di dataran rendah sampai ketinggian tanah 800 meter di atas permukaan laut. Selain tumbuh liar di ladang-ladang, kecubung sering ditanam di kebun atau halaman rumah dan di tepi sungai. Kecubung mempunyai nama ilmiah spesies datura fastuosa, Linn, dan datura metel. Di beberapa daerah, kecubung dikenal dengan nama yang serupa seperti kacubung (Sunda) atau kachobung (Madura).
Kecubung termasuk tumbuhan jenis perdu yang mempunyai pokok batang kayu dan tebal, bercabang banyak, tumbuh dengan tinggi kurang dari dua meter. Daun berbentuk bulat telur dan pada bagian tepinya berlekuk tajam. Bunga kecubung menyerupai terompet berwarna putih dan lembayung. Buahnya hampir bulat dan salah satu ujungnya didukung oleh tangkai tandan yang pendek dan melekat kuat. Buah kecubung bagian luarnya dilapisi duri-duri dan di dalamnya berisi biji-biji kecil yang berwarna kuning kecoklatan.
Kecubung merupakan tanaman obat yang mempunyai banyak khasiat. Hampir seluruh bagian tubuhnya dapat digunakan sebagai obat. Oleh sebab itu, penulis akan meneliti sejauh mana kecubung berkhasiat sebagai obat.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah di atas, penulis dapat merumuskan masalah sebagai berikut:
1.2.1 Apakah kandungan kecubung?
1.2.2 Apakah khasiat kecubung sebagai obat?
1.2.3 Bagaimana cara mememanfaatkan kecubung sebagai obat?
1.2.4 Apakah efek samping dari penggunaan kecubung?
1.3 Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah di atas, penulis dapat merumuskan tujuan sebagai berikut:
1.3.1 mendeskripsikan kandungan kecubung.
1.3.2 mendeskripsikan khasiat kecubung.
1.3.3 mendeskripsikan cara memanfaatkan kecubung sebagai obat.
1.3.4 mendeskripsikan efek samping dari penggunaan kecubung.
BAB II
LANDASAN TEORI
2.1 Pengertian Obat Tradisional
Akhir-akhir ini dalam hal pengobatan terhadap penyakit, masyarakat cenderung beralih dari obat-obatan kimia ke obat-obatan tradisional. Karena dipercaya dengan meminum obat-obatan tradisional maka akan mengurangi dampak-dampak zat-zat kimia di dalam tubuh kita.
Obat tradisional adalah obat yang diramu dari berbagai macam akar, kulit pohon, batang, bunga, buah, dan daun untuk mengobati berbagai macam penyakit, atau disebut juga obat kampung (Kamus Besar Bahasa Indonesia, 2005:792). Salah satu tumbuhan yang digunakan sebagai obat tradisional adalah pohon kecubung.
2.2 Hal - Ihwal Kecubung
Kecubung tersebar luas di Indonesia, terutama di daerah beriklim kering. Umumnya, tumbuh liar di tempat terbuka pada tanah berpasir yang tidak begitu lembab. Seperti di semak, padang rumput terbuka, tepi sungai, atau ditanam di pekarangan sebagai tumbuhan obat. Aslinya, tanaman ini diperkirakan berasal dari benua Amerika dan dapat ditemukan pada daerah dataran rendah sampai ketinggian 800 meter dari permukaan laut.
Bentuk tumbuhan kecubung adalah perdu, setahun, tegak, bagian pangkal umumnya berkayu, bercabang-cabang, tinggi 0,5-2 meter, beracun. Daun tunggal, bertangkai dengan letak berhadapan. Helaian daun umumnya berbentuk bulat telur, ujung runcing, tepi berlekuk, panjang 6-25 cm, lebar 4,5-20 cm. bunga tunggal, berbentuk terompet, tegak, keluar dari ujung tangkai, bunga akan mekar menjelang matahari terbenam dan akan kuncup sore hari berikutnya. Buahnya berbentuk bulat, berduri tempel, dan tajam. Bijinya banyak, kecil-kecil, gepeng, berwarna kuning kecoklatan. Kecubung berkembang biak dengan biji
Kecubung mempunyai rasa pahit, pedas, sifatnya hangat, beracun (toksik), masuk meridian jantung, paru dan limpa. Kecubung berkhasiat antiasmatik, antitusif (anti batuk), antirematik, penghilang nyeri (anal gesik), afrodisiak, dan pemati rasa (anestetik).
BAB III
METODOLOGI PENULISAN
Penulisan karya ilmiah ini dilakukan dengan menggunakan metode deskriptif.
3.1 Proses Penelitian
3.1.1 mengumpulkan referensi-referensi yang berkaitan dengan tema “Kecubung Sebagai Obat Tradisional”
3.1.2 menganalisis data
3.1.3 menarik kesimpulan
3.2 Cara Pengambilan Data
Pengambilan data dilakukan dengan menggunakan metode kepustakaan. Metode kepustakaan adalah penulis mencari dan mengkaji berbagai macam referensi yang terkait dengan tema yang diangkat. Keseluruhan proses penulisan sejak awal hingga sampai akhir dengan cara memanfaatkan berbagai macam pustaka yang relevan dengan fenomena yang diamati. Data dapat berupa tulisan baik itu dari buku maupun dari internet untuk membahas penelitian.
3.3 Cara Menganalisis Data
Analisis data dilakukan dengan cara mengelompokkan referensi-referensi yang sudah ada, berdasarkan rumusan masalah penelitian. Sehingga masing-masing rumusan masalah dapat terjawab.
3.4 Pengambilan Kesimpulan
Untuk mengambil kesimpulan dan saran, terlebih dahulu kami melakukan analisis data dan memadukan data-data tersebut yang saling terkait satu sama lain. Dalam pengambilan kesimpulan, penulis hanya mengambil garis besarnya saja dari pembahasan. Kemudian kami susun dan sajikan dalam bahasa yang sederhana agar mudah dipahami.
BAB IV
PEMBAHASAN
4.1 Kandungan Kecubung
Semua bagian tumbuhan kecubung mulai dari akar, tangkai, daun, bunga, buah, dan bijinya, mengandung senyawa alkaloid. Dalimarta (2000:107) menyatakankan bahwa kecubung mengandung 0,3 – 0,43% alkaloid (sekitar 85% skolpolamin dan 15% hyoscymine). Adanya Hyoscimin dan atropine tergantung pada varietas, lokasi, dan musim.1
Sebagian alkaloid itu terdiri atas Atropin (bersifat antikholinergik), Hyoscyamin (bersifat antikholinergik), Skopolamin (bersifat antikholinergik), Hiosin, zat lemak, dan Kalsium Oksalat. Atropin dan Skopolamin memberi efek klinis yang secara prinsip digunakan untuk menghentikan spasme pada perawatan spasti kolitis, gastroentritis, dan peptic ulcer. Juga digunakan untuk mengurangi sekresi saluran pernafasan pada saat anastesi, sekresi lambung pada perawatan ulkus peptikum serta sekresi nasal dan sinus pada pengobatan flu dan alergi. Pada keadaan kritis digunakan untuk mencegah terjadinya pelekatan antara iris dan lensa mata.
Gejala keracunan yang dapat timbul pada pemakaian Atropin dan Skopolamin adalah skin rast, mulut kering, kesulitan buang air kecil, sakit mata, dan sensitif terhadap cahaya. Penderita diberi antasida seperti alumina gel untuk menghambat resorbsi obat. Sebagai antidotum apabila terjadi keracunan kecubung, digunakan campursan jahe dan air kelapa hijau untuk diminum.
4.2 Khasiat Kecubung Sebagai Obat
Dalimarta mengungkapkan, bagian utama yang digunakan sebagai obat adalah bagian bunga. Selain itu, daun juga berkhasiat sebagai obat. Tumbuhan ini dapat digunakan secara segar atau setelah dikeringkan.2
1Setiawan Dalimarta, Atlas Tumbuhan Obat Indonesia, (Jakarta: Trubus Agriwijaya, 2000), hlm.107.
2Ibid., hlm.108.
4.2.1 Indikasi
Bunga digunakan untuk mengatasi :
a) asma dan nafas pendek
b) rasa nyeri hebat pada kanker stadium lanjut
c) nyeri lambung, reumatik
d) prolapsus ani
Daun digunakan untuk mengatasi :
a) sesak nafas, batuk rejan
b) sakit pinggang, reumatik, memar
c) ketombe
d) lendir di tenggorokan
4.3 Cara Memanfaatkan Kecubung
Untuk obat yang diminum, sediakan 0,3-0,6 gram bunga kecubung, lalu direbus. Kemudian diminum air rebusannya. Cara lain, keringkan bunga, lalu digulung dan dibakar, kemudian dihisap asapnya.
Untuk pemakaian luar, rebus dua sampai tiga kuntum bunga lalu air rebusannya digunakan sebagai obat kompres atau obat cuci pada penyakit bengkak akibat terbentur atau terpukul (memar), anus turun (prolapsus ani), jamur kulit, bisul, atau sebagai serbuk tabor untuk menghilangkan nyeri, seperti pada sakit gigi dan bisul. Serbuk akar digunakan untuk menghilangkan nyeri pada sakit gigi.3
4.3.1 Contoh Pemakaian
a) sesak nafas
Sepuluh lembar daun kecubung diiris-iris (dirajang) dan dijemur
sampai kering. Dipakai untuk merokok dengan bungkus kelobot jagung.
b) menghilangkan rasa nyeri, seperti bisul dan pada sakit gigi
Empat lembar daun kecubung dan kapur sirih secukupnya. Kedua Bahan tersebut ditumbuk sampai halus dan dibuat adonan sampai merata. Dipakai untuk bedak atau param gosok pada bagian yang sakit.
3http://www.iptek.net.id/ind/pd_tanobat/view.php?id=14
c) prolapsus ani
Rebus dua sampai tiga kuntum bunga dalam air bersih secukupnya sampai mendidih. Gunakan ramuan ini selagi hangat untuk mencuci dan merendam dubur yang prolaps.
d) reumatik
Dengan mencampurkan daun kecubung sebanyak 14 helai dengan sepuluh sendok makan minyak kelapa. Daun tersebut dirajang dan dijemur lalu ditambah minyak kelapa. Kemudian didiamkan selama tiga hari. Setelah diperas dan dipisahkan dari daunnya, minyak dihangatkan. Ramuan ini kemudian digosokkan ke bagian yang nyeri, bila perlu bisa dibubuhi minyak kayu putih.
e) sakit pinggang
Sediakan lima lembar daun kecubung segar, lima butir bawang merah, dan jahe seukuran ibu jari yang dibuang kulitnya. Cuci bahan-bahan tersebut dan tumbuk hingga halus. Gosokkan ramuan tersebut ke bagian pinggang yang sakit.
f) ketombe
Bagi mereka yang bermasalah dengan ketombe dapat mencampurkan tujuh helai daun kecubung kering dengan lima sendok makan minyak kelapa. Keduanya dimasukkan ke dalam botol lalu dijemur di terik matahari selama tujuh hari. Minyak tersebut dioleskan ke kulit kepala sebanyak dua kali sehari, pagi dan sore.
g) lendir di tenggorokan
Cuci tiga lembar daun kecubung muda sampai bersih, lalu rebus dalam tiga gelas air bersih sampai tersisa satu gelas. Setelah dingin, kemudian disaring lalu air saringannya diminum. Selanjutnya, minum gula asam secukupnya. Cara pembuatannya, tambahkan gula aren ke dalam air asam jawa secukupnya, lalu rebus sampai mendidih.
4.4 Efek Samping
Ramuan obat kecubung dapat menimbulkan efek samping pada beberapa orang yang mengonsumsinya. Efek samping yang timbul berupa mual, muntah, dan sesak nafas akibat kejang saluran nafas (spasme laring). Jika ramuan obat ini digunakan secara berlebihan dapat menimbulkan rasa gelisah, nadi berdenyut cepat, kulit muka dan tubuh menjadi merah, pusing, rasa haus, mulut kebas, buang air besar dan kecil tidak terkontrol, jalan terasa melayang, pupil melebar, dan akhirnya dapat menyebabkan kematian.4
Jika timbul tanda-tanda keracunan, gunakan campuran jahe dan air kelapa muda sebagai penawar racun (antidotum). Caranya, tumbuk jahe sebesar jempol, lalu rebus dalam air kelapa muda sampai mendidih. Selanjutnya minum ramuan tersebut selagi hangat.
4http://www.balipost.co.id/Balipostcetak/2005/4/27/kes3.html
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan
Berdasarkan telaah yang dilakukan, diperoleh hasil sebagai berikut.
5.1.1 Bagian tumbuhan kecubung mulai dari akar, tangkai, daun, bunga, buah, dan bijinya, mengandung senyawa alkaloid sebesar 0,3 – 0,43%. Alkaloid terdiri dari sekitar 85% skolpolamin dan 15% hyoscymine.
5.1.2 Kecubung berkhasiat untuk menyembuhkan berbagai macam penyakit. Baik penyakit luar maupun dalam. Secara garis besarnya, kecubung berkhasiat untuk menyembuhkan penyakit kulit dan gangguan-gangguan pada system pernafasan.
5.1.3 Secara umum, cara memanfaatkan kecubung adalah :
1) untuk penyakit dalam, menggunakan 0,3-0,6 gram bunga kecubung, lalu direbus, kemudian diminum air rebusannya. Atau keringkan bunga, lalu digulung dan dibakar, kemudian dihisap asapnya.
2) untuk pemakaian luar, rebus dua atau tiga kuntum bunga kecubung lalu air rebusannya digunakan sebagai obat kompres.
5.1.4 Efek samping jika ramuan obat ini digunakan secara berlebihan dapat menimbulkan rasa gelisah, nadi berdenyut cepat, kulit muka dan tubuh menjadi merah, pusing, rasa haus, mulut kebas, buang air besar dan kecil tidak terkontrol, jalan terasa melayang, pupil melebar, dan akhirnya dapat menyebabkan kematian.
5.2 Saran-Saran
Berdasarkan hasil-hasil penelitian di atas, penulis menyarankan :
a) Jika timbul tanda-tanda keracunan akibat mengkonsumsi kecubung, gunakan campuran jahe dan air kelapa muda sebagai penawar racun.
b) Kecubung merupakan tumbuhan beracun. Jangan diberikan kepada penderita tekanan bola mata tinggi (glaucoma), kondisi badan lemah, hipertensi, anak-anak, dan ibu hamil.
c) Hendaknya jangan menyalahgunakan kecubung. Bijinya yang beracun dapat membawa dampak negatif bagi yang mengonsumsinya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar